Rabu, 31 Oktober 2012

MANAJEMEN SEKOLAH DI SD NEGERI 1 KRIKIL





MANAJEMEN SEKOLAH DI SD NEGERI 1 KRIKIL
LAPORAN  HASIL  OBSERVASI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester Empat Mata Kuliah Manajemen Sekolah
Dosen Pengampu : Ibu Sri Susilaningsih
Oleh :
FAJAR SETIAWAN
1401410414
Rombel : 42


PENDIDIKAN  GURU  SEKOLAH  DASAR
FAKULTAS  ILMU  PENDIDIKAN
UNIVERSITAS  NEGERI  SEMARANG
2012




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT yang yelah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan observasi di SD Negeri 1 Krikil Pageruyung Kendal ini dengan baik. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Manajemen Sekolah.
Penyusunan laporan ini berdasarkan data yang diperoleh dari kegiatan observasi langsung di SD Negeri 1 Krikil, wawancara dengan Kepala Sekolah dan data sekunder dari pihak yang bersangkutan.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada :
       Dra. Hartati, M.Pd, selaku Ketua jurusan PGSD.
       Ibu Sri Susilaningsih selaku dosen pengampu Mata Kuliah Manajemen Sekolah yang telah membimbing dalam menyelesaikan laporan ini.
       Kedua orang tua kami yang telah memberikan dukungan moral.
       Pihak dari SD Negeri 1 Krikil.
       Semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan laporan ini.
Kami menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yag membangun dari pembaca sangat kami harapkan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.









Kendal,   1 Juni  2012


Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera, baik secara individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat, bangsa maupun antar bangsa. Fungsi pendidikan lainnya adalah peradaban. Mengingat peradaban bersifat evolusioner dan dinamis, berkembang dan berubah maka fungsi pendidikan pun harus terus berubah dalam upaya terus mencapai kemajuan sesuai dengan peradaban baru yang ingin diraih oleh suatu bangsa.
Model pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman disebut pendidikan yang relevan dengan zamannya. Suatu tujuan pendidikan pada gilirannya adalah menyiapkan individu (dalam memenuhi kebutuhan individualnya) untuk dapat beradaptasi/ menyesuaikan diri atau memenuhi tututan sesuai wilayah tertentu yang senantiasa berubah. Model pendidikan dalam lingkup makro disebut sebagai sistem pendidikan yang relevan adalah model pendidikan yang menghasilkan manusia yang dapat menyesuaikan diri memenuhi kebutuhan tuntutan zaman sesuai dengan wilayah masyarakat dan peradabannya.
Manajemen Berbasis Sekolah bukanlah semata-mata masalah teknis edukatif. Tetapi justru lebih cenderung pada pembagian kewenangan atau kekuasaan (power sharing) di dalam pengelolaan pendidikan. Seperti lazimnya proses “power sharing”, selalu terjadi tarik-menarik kepentingan antarberbagai pihak (stakeholders) sampai terjadi keseimbangan yang memuaskan pihak-pihak yang bersangkutan. Oleh karena itu, dengan MBS akan terlihat pada fungsi-fungsi manajemen mana yang didesentralisasikan ke sekolah, sehingga dapat terlihat secara jelas benang merah kewenangan kekuasaan dan kewenangan (power and authority) antara pemerintah pusat, propinsi, kabupaten/kota, sekolah,  orang tua, dan masyarakat, dalam mengelola pendidikan. Keseimbangan  yang terjadi bersifat dinamis dan sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan naik turunnya kekuatan peran masing-masing stakeholder.

B.            Tujuan dan Manfaat:
Kegiatan observasi di SD Negeri 01 Krikil yang telah dilaksankan pada tanggal 01 Juni 2012 selain bertujuan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Sekolah juga bertujuan untuk :
1.        Mahasiswa dapat mengetahui secara langsung tentang penerapan manajemen sekolah dalam proses pembelajaran di lapangan.
2.        Mahasiswa dapat membandingkan secara langsung antara teori yang di dapat dalam perkuliahan dengan  kenyataan di lapangan.
3.        Memberikan bekal dan pengalaman  bagi mahasiswa
4.        Mengetahui cara membina hubungan sosial yang baik antara warga sekolah

C.           Sasaran Observasi
            Sesuai dengan kompenen yang ada dalam manajemen sekolah, maka observasi ini mempunyai sasaran sebagai berikut:
1.        Manajemen kurikulum
2.        Manajemen Kesiswaan
3.        Manajemen Pegawai
4.        Manajemen Keuangan

D.           Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Kegiatan observasi ini dilaksanakan pada :
Tempat              : SD Negeri 1 Krikil Ds. Krikil kecamatan Pageruyung Kabupaten Kendal, 51361
Waktu               : 08.00 - selesai
Hari                    : Jumat
Tanggal             : 1 Juni 2012

E.            Metode
Dalam observasi ini, penulis memperoleh data dengan menggunakan metode:
1.    Metode Observasi
Menurut Mulyono Seputra (1994:440) observasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan terrhadap objek penelitian.
2.    Metode Wawancara
wawancara adalah suatu percakapan terpimpin dan tercatat atau suatu percakapan secara tatap mula dimana seseorang mendapat informasi dari orang lain (Denzig).
Wawancara adalah instrumen pengumpul data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.

3.    Metode dokumentasi
Yaitu semua kegiatan yang berkaitan dengan photo, dan penyimpanan photo,
pengumpulan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dalam bidang pengetahuan, kumpulan bahan atau dokumen yang dapat digunakan sebagai asas bagi sesuatu kejadian, penghasilan sesuatu terbitan, arsip kliping surat, photo-photo dan bahan rferensinya yang dapat digunakan sewaktu-waktu untuk melengkapi berita atau karangan dalam observasi
.


























BAB II
PEMBAHASAN

A.           Landasan Teori
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bagian penjelasan pasal 51 ayat 1, MBS didefinisikan sebagai “bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala sekolah atau madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah atau madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan”. Tilaar berpendapat bahwa inti dari MBS adalah partisipasi masyarakat (Irawan, dkk, 2004), dan pendapat tersebut sangat masuk akal sebab komite sekolah yang menjadi instrumen kunci dalam implementasi MBS memang terdiri dari elemen-elemen yang merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, misalnya seperti orang tua peserta didik dan masyarakat yang tinggal di sekitar sekolah.
Sedangkan yang menjadi landasan teori dari MBS yaitu pertama, prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
Kedua, prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah, yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru, staf, kepala sekolah dan orang tua siswa. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewenangan, pengetahuan dan keterampilan, informasi dan penghargaan.
Ketiga, prinsip sistem pengelolaan mandiri. Desentralisasi dalam kekuasaan, pengetahuan dan keterampilan, informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri.
Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya.
Keempat, prinsip inisiatif sumber daya manusia. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut.
Dasar hukum pelaksanaan MBS adalah UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 51 ayat 1, “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah atau madrasah”. Legalisasi pelaksanaan MBS juga termuat dalam peraturan turunan undang-undang sistem pendidikan nasional, yaitu dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 49 ayat 1, “Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas”. Sementara itu, Kemendiknas memberikan 10 alasan dibalik pemberlakuan kebijakan MBS, sebagaimana berikut (Irawan, dkk, 2004):
1.             Bila sekolah memiliki otonomi yang lebih besar maka sekolah akan lebih leluasa dalam mengekspresikan keaktifan atau kreativitasnya dalam meningkatkan mutu sekolah;
2.             Bila sekolah memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam mengelola sumber dayanya maka sekolah akan lebih lincah dalam memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah;
3.             Bila sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang ada maka sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia dalam memajukan sekolah;
4.             Bila sekolah lebih mengetahui input pendidikan lembaganya maka sekolah dapat mendayagunakannya dalam proses pendidikan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik;
5.             Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolah;
6.             Bila masyarakat sekitar sekolah mengontrol penggunaan sumber daya pendidikan maka penggunaannya akan menjadi lebih efektif dan efisien;
7.             Bila seluruh warga sekolah dan masyarakat terlibat dalam pengambilan keputusan sekolah maka akan tercipta transparansi dan demokrasi yang sehat;
8.             Bila sekolah bertanggung jawab secara langsung terhadap orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah, maka sekolah akan berupaya secara optimal dalam pelaksanaan pencapaian mutu pendidikan yang telah direncanakan;
9.             Dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah, maka sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah lainnya dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya yang lebih inovatif;
10.         Sekolah dapat melakukan respon yang lebih cepat terhadap aspirasi masyarakat yang berubah dengan cepat.

Dari kesepuluh alasan yang dikemukakan oleh Kemendiknas tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan utama pemberlakuan kebijakan MBS adalah peningkatan mutu pendidikan melalui model pengelolaan sekolah yang lebih demokratis. Tujuan utama Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah peningkatan mutu pendidikan. Dengan adanya MBS sekolah dan masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah dari atas. Mereka dapat pengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri. Menurut Slamet PH (Irawan, dkk, 2004) secara empiris, memang MBS perlu diimplementasikan sebab model pengelolaan sekolah secara sentralistis yang telah cukup lama diterapkan terbukti kurang mengakomodasi kebutuhan sekolah, menumpulkan daya kreativitas sekolah, dan mengikis habis sense of belonging warga sekolah terhadap sekolahnya. Tentunya pada sekolah yang menerapkan MBS, kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap (Depdiknas, 2007:17- 18) Dengan begitu, MBS sebagai paradigma baru pendidikan dapat memberikan hasil yang memuaskan (Mulyasa, 2005: 126).


B.            Hasil Observasi

Identitas Sekolah
Nama Sekolah                  : SD Negeri 1 Krikil
Alamat Sekolah                 :Ds. Krikil Rt. 01 Rw. 03 kecamatan pageruyung. Kabupaten Kendal, 51361
Status Sekolah                  : Negeri
Katerori Sekolah               : Sekolah Standar Nasional (SSN)

A.         Segi Fisik
1.    Letak Geografis Sekolah
Batas-batas lingkungan SD Negeri 1 Krikil adalah:
a.    Sebelah Utara                     : Rumah Penduduk
b.   Sebelah Selatan                   : Rumah Penduduk
c.    Sebelah Barat                      : Kebun Sekolah
d.   Sebelah Timur                     : Jalan

2.    Sarana dan Prasarana
SD N 1 Krikil mempunyai sarana dan prasarana yang mencukupi tetapi belum semua bisa dimaksimalkan, adapun sarana yang dimiliki antara lain: lapangan sepak bola atau futsal, lapangan upacara, 9 ruang terdiri dari ruang 1 kantor, 6 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang UKS. akan  tetapi belum memiliki tempat ibadah.
Kelas merupakan tempat bagi para siswa untuk tumbuh dan berkembang potensi intelektual dan emosional, untuk itu kelas harus mencakup syarat-syarat sebagai kelas yang baik. Sd 1 Krikil sudah mencakup dari beberapa syarat diantaranya:
a.       Penataan ruang kelas yaitu lemari kelas ditempatkan di samping papan meja guru,
 almari tidak terbuat dari kaca melainkan dari kayu yang digunakan para siswa untuk menyimpan  buku-buku dan alat peraga.
b.      Perlengkapan kelas
Perlengkapan mencakup papan tulis dan penghapusnya, meja dan kursi
 guru, meja dan kursi siswa, almari kelas, jadwal pelajaran, papan absensi, daftar piket kelas, kalender pendidikan, gambar Presiden dan Wakil Presiden serta lambang garuda pancasila, tempat sampah, sapu , serta alat peraga.

B.          Segi Non Fisik
1.    Bidang Kurikulum
Secara umum pada setiap kelas yang saya observasi, sekolah membuat rencana program pengajaran pada saat rapat antara pihak Komite, Kepala Sekolah, Guru-guru, dan Orang tua siswa. Silabus, Program Semester dan Tahunan, RPP dan Kurikulum telah disusun sejak awal tahun semester. Pelaksanaan Ulangan Harian salalu dilaksanakan setiap satu bulan sekali, dan dibuat oleh guru secara mandiri dalam bentuk LKS. Jadwal pelajaran sudah disusun atau direncanakan pada awal semester. Program pengajaran dari kelas I sampai kelas VI sesuai dengan standar pengembangan kurikulum, yaitu :

a.       Kelas I – III : menggunakan tematik
b.      Kelas IV – VI : berpusat pada guru kelas
c.       KKM ditentukan sendiri oleh pihak sekolah

Rencana program pengajaran disesuaikan dengan  program efektif dan hari libur. Semua telah disusun oleh guru dalam kalender pendidikan.
Jadwal pelajaran sekolah tiap kelas ditempel di dinding kelas agar semua siswa dapat melihatnya. Selain jadwal pelajaran, di dinding kelas juga ditempel data-data siswa seperti agama, terdapat peta buta pada kelas rendah dan peta dunia pada kelas tinggi, Pancasila dan foto Presiden dan Wakil Presiden,
 pahlawan-pahlawan, grafik absen, daftar piket, jadwal mata pelajaran, struktur organisasi kelas, papan absensi, kalimat-kalimat penyemangat, hasil karya atau hasil pekerjaan  siswa.
Setiap akhir semester guru membagikan raport pada siswa dengan ketentuan pada saat raport kenaikan kelas, orang tua siswa wajib datang beserta siswa untuk mengambilnya. Bagi siswa yang berkeinginan pindah sekolah dapat meminta surat permohonan pindah sekolah pada kepala sekolah. Hal ini biasanya terjadi pada siswa yang pindah tempat tinggal.
 Ketentuan nilai yang harus dicapai siswa atau standar nilai sekolah (NS) dan nilai akhir (NA) telah ditentukan oleh pihak sekolah. Jadi apabila ada siswa yang belum memenuhi standar nilai tersebut maka siswa dapat tidak naik kelas.
Adapun misi dari sekolah yaitu melaksanakan pembelajaran paikem terlihat dalam pembelajaranya guru lebih mengutamakan keaktifan siswa. menumbuhkan semangat dan berproduksi kepada warga sekolah. Mengembangkan potensi yang dimiliki oleh sekolah terlihat pada kegiatan kegiatan seperti ekstra kurikuler yang diikuti siswa misal olahraga, kegiatan kepramukaan dan BTQ. Menumbuh kembangkan kegiatan yang berwawasan iptek yang dapat membekali siswa untuk melanjutkan sekolah ke dunia kerja terlihat pada pembelajaran IPA dengan berbagai  alat peraga yang disediakan di Lab IPA. Meningkatkan pelayanan pada pengguna jasa pendidikan. Mengembangkan kegiatan eksta kurikuler yang potensial. Dari misi sekolah sekoalah mengharapkan output yang bagus dengan ditunjang berbagai kegiatan dalam proses menuju output.

2.    Bidang Kepegawaian
Budaya mutu yang selalu dipegang oleh sekolah adalah budaya anak rajin belajar, setiap kali ada ulangan siswa duduk satu-satu untuk menghindari contek-mencontek antar siswa. Sekolah memiliki manajemen yang terbuka, semua hal dilakukan secara transparan. Sekolah selalu berkeinginan untuk menjadi lebih baik tiap tahunnya dan selalu disesuaikan dengan perkembangan jaman.

Usulan pengadaan guru dan pegawai diusulkan pada saat rapat guru dan kepala sekolah, dan penentuan penerimaan yang menentukannya adalah kepala sekolah.
SD Negeri 1 Krikil memiliki 1 kepala sekolah, 6 guru kelas, 1 guru agama, 1 guru penjaskes, 1 guru bahasa inggris, dan 1 guru mulok.

Sekolah memberi kesempatan pada guru-guru/pegawai untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi mengikuti : Seminar, Penataran, Pelatihan, Work Shop. Kepala Sekolah menerapkan manajemen terbuka dan partisipatif, sehingga semua guru/pegawai terlibat dalam pengambilan keputusan.
Selain itu hubungan antara kepala sekolah dengan guru-guru kelas sangat hangat sehingga dalam proses manajemen dari kepala sekolah terlihat baik. Harapan prestasi yang tinggi selalu dimiliki sekolah, sekolah selalu berantusias untuk terus maju dengan mengikuti lomba-lomba. Adapun lomba yang diikuti oleh siswa antara lain lomba olahraga, lomba pramuka se kecamatan, lomba geguritan se kecamatan.

3.    Bidang Keuangan
Biaya atau keuangan dalam pendidikan merupakan suatu komponen yang sangat penting dalam menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan di sekolah tersebut. Pada awal tahun SD Negeri 1 Krikil membuat rencana anggaran kegiatan sekolah yang berisi pemasukan dan pengeluaran dana. Untuk fungsi keuangan Sekolah diolah oleh guru yang ditugaskan dan hasilnya dibahas bersama-sama yang dipimpin oleh kepala sekolah. Sumber dana berasal dari dana: BOS, APBD Kabupaten, dan  masyarakat.
Siswa dapat memanfaatkan fasilitas dari sekolah dengan baik. SD Negeri 1 Krikil sanggup menciptakan iklim belajar yang kondusif dalam proses belajar mengajar. Administrasi keuangan ini berhubungan dengan pelaksanaan operasional sekolah ataupun siswa, yakni: gaji guru dan pegawai, alat tulis sekolah (ats), bahan habis pakai, alat habis pakai, daya dan jasa (listrik, air, telp), pemeliharaan sarana-prasarana, kesiswaan (ekstrakurikuler),
buku perpustakaan, rapat-rapat, penerimaan siswa baru dan lainnya
Adapun administrasi keuangan di SD Negeri 1 Krikil meliputi :
a.         Buku kas utama
Ada. Buku kas utama berupa laporan pemasukan dan pengeluaran pendapatan sekolah.
b.        Rangkuman penerimaan dan pengeluaran
Semua uang yang masuk dan keluar dicatat untuk LPJ, semua tersusun dengan rapi.

Sekolah memiliki hubungan yang sangat baik dengan komite, komite pun sangat mendukung setiap program sekolah, apapun yang terbaik untuk siswa nantinya selalu diusahakan dan disetujui oleh komite. Komite pun sangat aktif dalam pengadaan dana bantuan untuk sekolah, semua pengelolan dana sekolah diketahui oleh komite.




























LAMPIRAN-LAMPIRAN
Struktur Organisasi














Sekolah Dari Depan
                                                                    















Visi dan Misi SD














Jadual Pelajaran                                                                   Administrasi Sekolah












Perpustakaan dan Lab IPA                                                                           Papan Pengumuman































BAB III
PENUTUP

A.           Simpulan
Dari observasi yang telah dilakukan di SD Negeri 1 Krikil mengenai penerapan manajemen sekolah , maka dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain:
a.         Dari segi fisik SD N 1 Krikil sudah mempunyai sarana yang bagus, adapun sarana yang dimiliki antara lain: lapangan sepak bola atau futsal, lapangan upacara, 9 ruang terdiri dari ruang 1 kantor, 6 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang UKS.
b.        Dari segi non fisik
-        Dalam bidang manajemen kurikulum sudah baik, karena sekolah telah mengembangkan sendiri kurikulum yang ada. Semua perlengkapan dalam pembelajaran seperti silabus, RPP, prota dan promes juga sudah ada.
-       Bidang kepegawaian sudah cukup karena sekolah tidak merasa kekurangan guru.
-       Bidang keuangan dapat dikelola dengan sangat baik karena sekolah melakukannya dngan transparan, bagi semua pihak yang berkepentingan.

B.            Saran
Perlunya kerjasama yang baik antara orang tua murid dan sekolah dalam upaya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah. Sehingga akan memperoleh kelancaran dalam pelaksanaan tujuan-tujuan pendidikan yang telah di canangkan. Selain itu sama pentingnya dengan menjaga lingkungan sekolah oleh seluruh warga sekolah atas keadaan lingkungan yang telah tercipta oleh seluruh pihak yang bersangkutan dalam pelaksanaan pendidikandi sekolah.
sebaiknya sekolah menambah TU supaya dalam menjalankan administrasi sekolah bejalan dengan mudah dan lancar, karena ada yang menangani sendiri. sehingga kepala sekolah tidak terbebani dengan administrasi.





DAFTAR PUSTAKA

1.             Sutomo. 2009. Manajemen Sekolah, Semarang: UNNES PRESS
2.             Ekosiswoyo, Rachman 2000. Manajemen Kelas, Semarang: IKIP SEMARANG PRESS










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar